sudah menjadi tradisi kalau baru kembali dari suatu tempat, apalagi tempat tersebut jarang di kunjungi, tentunya kita akan berusaha membeli oleh- oleh. yah, tidak terkecuali denganku. beberapa bulan lalu, sewaktu ke Batam, sebelum pulang aku dan kawan-kawan membeli oleh-oleh di salah satu supermarket. Di sana aku sempat terheran-heran melihat teknologi supercanggih yang dinamakan barcode reader.
Yang membuatku heran adalah bukan pada alatnya, tapi pada teknik barcode reader (untuk yang pengecekan harga, bukan yang di kasir) membaca barcode yang tercetak langsung di kemasan makanan. Karena biasanya (sepengetahuanku) barcode reader akan membaca barcode yang di cetak di kertas (stiker), lalu ditempelkan di kemasan.Jadi kalau ada perubahan harga (diskon misalnya), maka akan dibuat lagi barcode baru,lalu ditempel lagi. tapi untuk hal yang satu ini, yang dibaca adalah barcode yang tercetak langsung dikemasan makanan tersebut. Baru kali ini aku lihat barcode yang dibaca adalah yang tercetak di kemasan.
Karena aku orang kampung yang sangat jarang ke supermarket, tentunya ini adalah pemandangan pertama yang unik dan membingungkan, setidaknya membingungkan sampai kemarin malam.
Lho kenapa bingung?? Apanya yang aneh?
iya ya, apanya yang aneh? kan biasa aja itu. yang buat aku heran adalah kok bisa sama antara Harga yang ada di Rak Makanan dan hasil pembacaan Barcode. Berarti seola-olah harga itu benar-benar harga yang ditetapkan oleh Produsen. kesan yang muncul pertama di otakku adalah "wah ini supermarket jujur amat, karena menjual dengan harga yang udah ditulis (dibarcode) dari pabriknya langsung. kenapa gak buat barcode yang baru,harga yang baru,terus di tempel di kemasan, kan harganya bisa ditentukan sendiri."
saat itu kesimpulanku adalah bahwa supermarket itu tidak akan bisa merubah harga jual, karena membaca barcode yang sudah tercetak langsung di kemasan. anda juga sependapat dengan kesimpulanku tersebut? Mudah-mudahan anda tidak berpikiran seperti itu, karena itu adalah kesimpulan yang keliru.
hal itu membuatku penasaran, sampai-sampai tidak konsen lagi membeli oleh-olehnya, ujung-ujungnya ya nyontek oleh-oleh teman.
"agh sudah lah, nanti dipikirkan lagi. lagian banyak hal yang harus dipikirkan dan disiapkan menjelang balik ke medan, nanti saja di pesawat dipikirkan lagi " pikirku dalam hati. Saat di perjalanan ke Medan, aku coba memikirkan hal tersebut , tapi tidak menemukan jawaban (padahal itu hal yang mudah kan??dasar aku nya aja yang telmi, dan terlalu jauh berpikir,ujung-ujungnya nyasar). Salah satu jawaban ku yang mendekati adalah kemungkinan adanya kerja sama antara supermarket dan produsen, kasarnya ya si supermarket minta dicetakkan barcode yang udah diatur harganya. tapi aku belum puas dengan jawabanku tersebut.
Akhirnya tadi malam, saat sebelum tidur, aku coba pikirkan lagi masalah tersebut (salah satu aktivitas sebelum tidur, ya itu, mencari jawaban atas permasalahan yang kucari-cari sendiri. sebelumnya,sejak SMA aku penasaran kenapa Indonesia dan Malaysia beda 1 jam, padahal kan gak sampe 15 derjat bedanya, Malaysia itu tepat di atas sumatera. yang ini udah terpecahkan, googling.hehehe). tadi malam aq coba untuk pecahkan masalah Barcode yang aneh itu,sebagai pengantar tidur. Dah Alhamdulillah ketemu jawabannya (telat amat ya mikirku??udah berbulan-bulan baru ketemu jawabannya).
Sebenarnya jawabannya simple aja. Supermarket tersebut bisa saja merubah harga sesukanya. Metodenya tinggal dibalik saja dari metode kebanyakan (yang sistem barcode tempel). Prosedur labeling harga yang biasanya (ini perkiraanku saja) adalah :
- - Tentukan Kode, misalnya “AACVXSS” untuk coklat rasa cabe
- Tentukan Harga, misalnya Rp. 5000,-Generate Barcode sesuai dengan kode
- Cetak dan tempelkan
Jadi untuk kasus yang supermarket batam, metodenya tinggal dibalik saja :
- Scan Barcode yang tercetak di kemasan
- Simpan Hasil pembacaan, misalnya “AABBCCDD” jadikan itu kode produk
- Tentukan harga untuk kode tersebut, misalnya Rp. 5000,
- Jadi kalau ingin merubah harga, tinggal ubah di databasenya saja.
Beres deh.

